KONDISI KETAKUTAN (STATE OF FEAR)
Kalau kita meneliti lebih jauh tentang apa yang terjadi pada perubahan media massa secara konseptualisasi normatif, kita akan menemukan sesuatu yang cukup menarik. Bisa anda coba amati dalam jaringan berita terbesar Amerika seperti NBC, ABC, dan CBS. Boleh juga anda iseng-iseng membuat kliping dari koran tertua di daerah anda. Ditemukan hasil yang mencolok dan mencengangkan.
Hasil analisa saya menemukan bahwa pada tahun 1989 terjadi pergeseran yang mencolok. Sebelum musim itu, media massa jarang menggunakan istilah-istilah seperti krisis, malapetaka, wabah, atau bencana. Sebagai contoh, selama era 1980-an frekuensi pemakaian kata bujet. Di samping itu, sebelum tahun 1989, kata-kata sifat seperti serius, belum pernah terjadi, dan megerikan jarang muncul di tayangan berita televisi atau judul utama koran, tapi setelah tahun itu semuanya berubah.
Kata-kata itu mulai menjadi kosakata media yang sangat lazim. Frekuensi pemakaian kata malapetaka pada tahun 1995 meningkat lima kali lebih banyak dibandingkan pada tahun 1985. Pada tahun 2000 ferekuensinya meningkat lagi dua kali lipat. Dan isi berita-berita itu juga mengalami perubahan. Judul utama koran dan tayangan berita TV semakin banyak menonjolkan unsur ketakutan, kecemasan, bahaya, ketidkapastian, dan kematian.
Dibalik semua ini ada istilah yang bekerja layaknya bensin pada sepeda motor yaitu kontrol sosial. Kebutuhan setiap negara berdaulat untuk mengendalikan perilaku segenap warganya, supaya mereka relatif tertib dan patuh. Agar mereka mengemudikan sepeda motor di sisi jalan yang benar, entah di sebelah kiri atau kanan, tergantung peraturan di setiap negara. Agar mereka taat membayar pajak. Dan kita tahu bahwa kontrol sosial paling efektif dikelola dengan menyebarkan rasa takut.
Tidakkah anda menyadarinya? Selama lima puluh tahun, negara-negara Barat telah berhasil membuat warga mereka terus dicekam ketakutan. Takut pada kekuatan dari belahan dunia lain. Takut pada perang nuklir. Ancaman komunis. Negara Tirai Besi. Imperium Setan. Demikian juga yang terjadi di negara-negara komunis. Rakyat mereka takut kepada kita. Lalu tiba-tiba pada musim gugur tahun 1989, semua ketakutan itu menguap begitu saja. Hilang tanpa bekas.
Tentu saja kita juga takut pada fundamentalisme radikal dan terorisme pasca peristiwa 9/11. Dan itu memang penyebab rasa takut yang rasional, tapi bukan rasa takut yang saya maksud. Histeria massa itu selalu ada karena sengaja diciptakan. Sebelum merebaknya isu terorisme, kita sudah dibuat takut oleh isu pencemaran lingkungan. Sebelum itu kita dihantui oleh ancaman komunis yang merasuk dalam ideologi negara kita. Jelasnya, meskipun penyebab rasa takut selalu berubah-ubah, kita tak pernah bebas dari rasa takut itu. ‘Ketakutan’ telah merasuki tulang dan sumsum masyarakat kita, selamanya.
Kita ambil contoh anda yang tinggal di komplek perumahan atau yang pemukiman lumayan padat. Anda mengetahui tetangga anda kemasukan maling pada malam hari, esoknya pada siang hari anda mendapati tetangga anda yang lain sedang diinterogasi polisi karena rumahnya dirampok oleh orang tak dikenal. Jika anda waras apalagi hidup berkeluarga, pastilah anda meningkatkan kewaspadaan anda dengan berbagai tindakan seperti membeli brankas tahan api untuk barang berharga anda, mengganti kunci pintu dengan yang lebih kuat, atau juga menyewa satpam bagi mereka yang tinggal di perumahan elit. Penjelasan diatas merupakan skala kecil dari kondisi ‘ketakutan’ yang saya maksud.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar